{"id":166,"date":"2016-07-07T08:26:40","date_gmt":"2016-07-07T01:26:40","guid":{"rendered":"http:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/?p=166"},"modified":"2017-01-24T14:57:32","modified_gmt":"2017-01-24T07:57:32","slug":"selamat-hari-raya-iedul-fitri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/selamat-hari-raya-iedul-fitri\/","title":{"rendered":"Selamat Hari Raya Iedul Fitri"},"content":{"rendered":"<p>Berhari Raya sesuai tuntunan Rasulullah<br \/>\nPenulis: Ummu \u2018Athiyah<\/p>\n<p>Tiap tanggal 1 Syawal kita berhari raya \u2018Iedul Fitri. Wahai Saudariku, ketahuilah bahwa hari raya ini merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada umat Muhammad <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>. Disebut \u2018Ied karena pada hari itu Allah memberikan berbagai macam kebaikan yang kepada kita sebagai hambaNya. Diantara kebaikan itu adalah berbuka setelah adanya larangan makan dan minum selama bulan suci Romadhan dan kebaikan berupa diperintahkannya mengeluarkan zakat fitrah.<\/p>\n<p><span id=\"more-27\"><\/span>Para ulama telah menjelaskan tentang sunah-sunah Rasulullah yang berkaitan dengan hari raya, diantaranya:<\/p>\n<p>1. Mandi pada hari raya.<\/p>\n<p>Sa\u2019id bin Al Musayyib berkata: <em>\u201cSunah hari raya \u2018idul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan, makan sebelum keluar dan mandi.\u201d<\/em><\/p>\n<p>2. Berhias sebelum berangkat sholat \u2018Iedul Fitri.<\/p>\n<p>Disunahkan bagi laki-laki untuk membersihkan diri dan memakai pakaian terbaik yang dimilikinya, memakai minyak wangi dan bersiwak. Sedangkan bagi wanita tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan baju yang mewah dan menggunakan minyak wangi.<\/p>\n<p>3. Makan sebelum sholat \u2018Idul Fitri.<\/p>\n<p><em>\u201cDari Anas RodhiyAllahu\u2019anhu, ia berkata: Nabi sholAllahu \u2018alaihi wa sallam tidak keluar rumah pada hari raya \u2018Iedul fitri hingga makan beberapa kurma.\u201d<\/em> (HR. Bukhari). Menurut Ibnu Muhallab berkata bahwa hikmah makan sebelum sholat adalah agar jangan ada yang mengira bahwa harus tetap puasa hingga sholat \u2018Ied.<\/p>\n<p>4. Mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari sholat \u2018Ied.<\/p>\n<p>Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, beliau mengambil jalan yang berbeda saat pulang dan perginya (HR. Bukhari), diantara hikmahnya adalah agar orang-orang yang lewat di jalan itu bisa memberikan salam kepada orang-orang yang tinggal disekitar jalan yang dilalui tersebut, dan memperlihatkan syi\u2019ar islam.<\/p>\n<p>5. Bertakbir.<\/p>\n<p>Nabi <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> biasa berangkat menunaikan sholat pada hari raya \u2018ied, lalu beliau bertakbir sampai tiba tempat pelaksanaan sholat, bahkan sampai sholat akan dilaksanakan. Dalam hadits ini terkandung dalil disyari\u2019atkannya takbir dengan suara lantang selama perjalanan menuju ke tempat pelaksanaan sholat. Tidak disyari\u2019atkan takbir dengan suara keras yang dilakukan bersama-sama. Untuk waktu bertakbir saat Idul Fitri menurut pendapat yang paling kuat adalah setelah meninggalkan rumah pada pagi harinya.<\/p>\n<p>6. Sholat \u2018Ied.<\/p>\n<p>Hukum sholat \u2018ied adalah <em>fardhu \u2018ain<\/em>, bagi setiap orang, karena Rosulululloh <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> senantiasa mengerjakan sholat \u2018Ied. Sholat \u2018Ied menggugurkan sholat jum\u2019at, jika \u2018Ied jatuh pada hari jum\u2019at. Sesuatu yang wajib hanya bisa digugurkan oleh kewajiban yang lain (<em>At Ta\u2019liqat Ar Radhiyah<\/em>, syaikh Al Albani, 1\/380). Nabi menyuruh manusia untuk menghadirinya hingga para wanita yang haidh pun disuruh untuk datang ke tempat sholat, tetapi disyaratkan tidak mendekati tempat sholat. Selain itu Nabi juga menyuruh wanita yang tidak punya jilbab untuk dipinjami jilbab sehingga dia bisa mendatangi tempat sholat tersebut, hal ini menunjukkan bahwa hukum sholat \u2018Ied adalah <em>fardhu \u2018ain<\/em>.<\/p>\n<p>Waktu Sholat \u2018Ied adalah setelah terbitnya matahari setinggi tombak hingga tergelincirnya matahari (waktu Dhuha). Disunahkan untuk mengakhirkan sholat \u2018Iedul Fitri, agar kaum muslimin memperoleh kesempatan untuk menunaikan zakat fitrah.<\/p>\n<p>Disunahkan untuk mengerjakan di tanah lapang di luar pemukiman kaum muslimin, kecuali ada <em>udzur<\/em> (misalnya hujan, angin kencang) maka boleh dikerjakan di masjid.<\/p>\n<p>Dari Jabir bin Samurah berkata: <em>\u201cAku sering sholat dua hari raya bersama nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam tanpa adzan dan iqamat.\u201d<\/em> (HR. Muslim) dan tidak disunahkan sholat sunah sebelum dan sesudah sholat \u2018ied, hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Abbas bahwa Nabi <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> sholat hari raya dua raka\u2019at. Tidak ada sholat sebelumnya dan setelahnya (HR. Bukhari: 9890)<\/p>\n<p>Untuk Khutbah sholat \u2018ied, maka tidak wajib untuk mendengarkannya, dibolehkan untuk meningggalkan tanah lapang seusai sholat. Khutbah Rasulullah <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> tidak dibuka dengan takbir, tapi dengan hamdalah, dan juga tanpa diselingi dengan takbir-takbir. Beliau berkutbah di tempat yang agak tinggi dan tidak menggunakan mimbar. Rasulullah berkutbah dua kali, satu untuk pria dan satu untuk wanita, ketika beliau mengira wanita tidak mendengar khutbahnya.<\/p>\n<p>7. Ucapan selamat Hari Raya.<\/p>\n<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang mengucapkan selamat pada hari raya dan beliau menjawab: \u201cAdapun ucapan selamat pada hari raya \u2018ied, sebagaimana ucapan sebagian mereka terhadap sebagian lainnya jika bertemu setelah sholat \u2018ied yaitu: <em>Taqabbalallahu minna wa minkum<\/em> (semoga Allah menerima amal kami dan kalian) atau <em>ahaalAllahu \u2018alaika<\/em> (Mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepadamu) dan semisalnya.\u201d Telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi bahwa mereka biasa melakukan hal tersebut. Imam Ahmad dan lainnya juga membolehkan hal ini. Imam Ahmad berkata, \u201cSaya tidak akan memulai seseorang dengan ucapan selamat \u2018ied, Namun jika seseorang itu memulai maka saya akan menjawabnya.\u201d Yang demikian itu karena menjawab salam adalah sesuatu yang wajib dan memberikan ucapan bukan termasuk sunah yang diperintahkan dan juga tidak ada larangannya. Barangsiapa yang melakukannya maka ada contohnya dan bagi yang tidak mengerjakannya juga ada contohnya (<em>Majmu\u2019 al-Fatawaa<\/em>, 24\/253). Ucapan hari raya ini diucapkan hanya pada tanggal 1 Syawal.<\/p>\n<p>8. Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada hari raya.<\/p>\n<p>Saat hari raya, kadang kita terlena dan tanpa kita sadari kita telah melakukan kemungkaran-kemungkaran diantaranya:<\/p>\n<ol>\n<li>Berhias dengan mencukur jenggot (untuk laki-laki).<\/li>\n<li>Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.<\/li>\n<li>Menyerupai atau tasyabuh terhadap orang-orang kafir dalam hal pakaian dan mendengarkan musik serta berbagai kemungkaran lainnya.<\/li>\n<li>Masuk rumah menemui wanita yang bukan mahrom.<\/li>\n<li>Wanita <em>bertabarruj<\/em> atau memamerkan kecantikannya kepada orang lain dan wanita keluar ke pasar dan tempat-tempat lain.<\/li>\n<li>Mengkhususkan ziarah kubur hanya pada hari raya \u2018ied saja, serta membagi-bagikan permen, dan makanan-makanan lainnya, duduk di kuburan, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, melakukan sufur (wanitanya tidak berhijab), serta meratapi orang-orang yang sudah meninggal dunia.<\/li>\n<li>Berlebih-lebihan dan berfoya-foya dalam hal yang tidak bermanfaat dan tidak mengandung mashlahat dan faedah.<\/li>\n<li>Banyak orang yang meninggalkan sholat di masjid tanpa adanya alasan yang dibenarkan syari\u2019at agama, dan sebagian orang hanya mencukupkan sholat \u2018ied saja dan tidak pada sholat lainnya. Demi Allah ini adalah bencana yang besar.<\/li>\n<li>Menghidupkan malam hari raya \u2018ied, mereka beralasan dengan hadits dari Rasulullah: <em>\u201cBarangsiapa menghidupkan malam hari raya \u2018iedul fitri dan \u2018iedul adha, maka hatinya tidak akan mati di hari banyak hati yang mati.\u201d<\/em> (Hadits ini <em>maudhu\u2019<\/em>\/palsu sehingga tidak dapat dijadikan dalil).<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Maroji\u2019:<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><em>Ahkamul \u2018Aidain<\/em> oleh Syaikh \u2018Ali Hasan bin \u2018Ali al-Halabi al-Atsari.<\/li>\n<li><em>Meneladani Rasulullah dalam Berhari Raya<\/em>.<\/li>\n<\/ol>\n<p>***<\/p>\n<p>Artikel www.muslimah.or.id<\/p>\n<p>Sumber: <a href=\"https:\/\/muslimah.or.id\/27-berhari-raya-sesuai-tuntunan-rasulullah.html\">https:\/\/muslimah.or.id\/27-berhari-raya-sesuai-tuntunan-rasulullah.html<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berhari Raya sesuai tuntunan Rasulullah Penulis: Ummu \u2018Athiyah Tiap tanggal 1 Syawal kita berhari raya \u2018Iedul Fitri. Wahai Saudariku, ketahuilah bahwa hari raya ini merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada umat Muhammad shallallahu \u2018alaihi&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":167,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-166","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=166"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/167"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=166"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=166"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=166"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}