{"id":2435,"date":"2016-09-12T10:24:16","date_gmt":"2016-09-12T03:24:16","guid":{"rendered":"http:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/?p=2435"},"modified":"2017-01-25T10:31:25","modified_gmt":"2017-01-25T03:31:25","slug":"selamat-hari-raya-idhul-adha-1437-h","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/selamat-hari-raya-idhul-adha-1437-h\/","title":{"rendered":"Selamat Hari Raya Idhul Adha 1437 H"},"content":{"rendered":"<header class=\"entry-header\">\n<h1 class=\"entry-title\">KENAPA MASIH ENGGAN BERQURBAN?<\/h1>\n<\/header>\n<div class=\"entry-content clearfix\">\n<p><strong>Buletin At-Tauhid Edisi 38 Tahun ke 10<\/strong><\/p>\n<p>Sebagian orang memiliki kelebihan harta yang sebenarnya sudah bisa berqurban dengan satu ekor kambing atau 1\/7 sapi secara patungan. Namun memang sifat manusia sulit mengeluarkan harta yang ia sukai. Padahal qurban mengandung hikmah dan keutamaan yang besar.<\/p>\n<p>Qurban yang kita kenal biasa disebut dengan udhiyah. <em>Udhiyah<\/em> adalah sesuatu yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri pada Allah <em>Ta\u2019ala<\/em> pada hari <em>nahr<\/em> (Idul Adha) dengan syarat-syarat yang khusus. (Lihat <em>Al Mawsu\u2019ah Al Fiqhiyyah<\/em>, 5\/74)<\/p>\n<p><strong>Perintah Qurban<\/strong><\/p>\n<p>Qurban pada hari nahr (Idul Adha) disyariatkan berdasarkan beberapa dalil, di antaranya adalah firman Allah Ta\u2019ala (yang artinya), \u201c<em>Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).<\/em>\u201d (QS. Al Kautsar : 2). Di antara tafsiran ayat ini adalah \u201c<em>berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)<\/em>\u201d. Tafsiran ini diriwayatkan dari \u2018Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu \u2018Abbas, juga menjadi pendapat \u2018Atho\u2019, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama. (Lihat <em>Zaadul Masiir<\/em>, Ibnul Jauzi, 9\/249)<\/p>\n<p>Dari hadits terdapat riwayat dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu \u2018anhu<\/em>, ia berkata, \u201c<em>Rasulullah shallallaahu \u2019alaihi wa<\/em> <em>sallam berqurban dengan dua ekor kambing kibasy putih yang telah tumbuh tanduknya. Anas berkata : \u201cAku melihat beliau menyembelih dua ekor kambing tersebut dengan tangan beliau sendiri. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher kambing itu. Beliau membaca <\/em><em>\u2018bismillah\u2019<\/em><em> dan <\/em><em>bertakbir.<\/em>\u201d (HR. Bukhari dan Muslim)<\/p>\n<p>Kaum muslimin pun bersepakat (berijma\u2019) akan disyari\u2019atkannya qurban. (<em>Fiqhul Udhiyah<\/em>, hal. 8)<\/p>\n<p><strong>Hikmah Berqurban<\/strong><\/p>\n<p>1- Qurban dilakukan untuk meraih takwa. Yang ingin dicapai dari ibadah qurban adalah keikhlasan dan ketakwaan, bukan hanya daging atau darahnya. Allah Ta\u2019ala berfirman (yang artinya), \u201c<em>Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.<\/em>\u201d (QS. Al Hajj : 37)<\/p>\n<p>2- Qurban dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.<\/p>\n<p>3- Qurban dilaksanakan untuk menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim \u2013<em>kholilullah<\/em> (kekasih Allah)- <em>\u2018alaihis salaam<\/em> yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail <em>\u2018alaihis salaam<\/em> ketika hari <em>an nahr<\/em> (Idul Adha).<\/p>\n<p>4- Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma\u2019il <em>\u2018alaihimas salaam<\/em>, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anaknya. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Isma\u2019il pun berubah menjadi seekor domba. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya. (Lihat <em>Al Mawsu\u2019ah Al Fiqhiyyah<\/em>, 5\/76)<\/p>\n<p>5- Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan qurban.<\/p>\n<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah<\/em> berkata, \u201cPenyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik <em>tamattu\u2019<\/em> dan <em>qiron<\/em> meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan qurban.\u201d (Lihat <em>Talkhish Kitab Ahkamil Udhiyah wadz Dzakaah<\/em>, hal. 11-12 dan <em>Shahih Fiqh Sunnah<\/em>, 2\/379)<\/p>\n<p><strong>Tetaplah Berqurban Ketika Mampu Walau Hukum Qurban Sunnah<\/strong><\/p>\n<p>Dari Ummu Salamah <em>radhiyallahu \u2018anha<\/em>, Nabi <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam <\/em>bersabda, \u201c<em>Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berqurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama : kuku) sedikit pun juga.<\/em>\u201d (HR. Muslim no. 1977)<\/p>\n<p>Imam Asy Syafi\u2019i <em>rahimahullah <\/em>berkata, \u201cDalam hadits ini adalah dalil bahwasanya hukum qurban tidaklah wajib karena Rasulullah <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> bersabda, \u201cJika kalian ingin menyembelih qurban \u2026\u201d. Seandainya menyembelih qurban itu wajib, beliau akan bersabda, \u201cJanganlah memotong rambut badannya hingga ia berqurban (tanpa didahului dengan kata-kata: Jika kalian ingin \u2026, pen)\u201d.\u201d (Disebutkan oleh Al Baihaqi dalam <em>Al Kubro<\/em>, 9\/263)<\/p>\n<p>Walau menurut pendapat mayoritas ulama hukum berqurban itu sunnah, tetaplah berqurban apalagi mampu. Untuk orang yang mampu dan kaya mengeluarkan 2,5 juta rupiah untuk qurban kambing atau patungan sapi sebenarnya begitu enteng. Tinggal niatan saja yang perlu dikuatkan.<\/p>\n<p>Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi <em>rahimahullah <\/em>setelah memaparkan perselisihan ulama mengenai hukum qurban, beliau berkata, \u201cJanganlah meninggalkan ibadah qurban jika seseorang mampu untuk menunaikannya. Karena Nabi <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> sendiri memerintahkan, \u201c<em>Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu dan ambil perkara yang tidak meragukanmu<\/em>.\u201d Selayaknya bagi mereka yang mampu agar tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan. <em>Wallahu a\u2019lam<\/em>.\u201d (<em>Adhwa\u2019ul Bayan<\/em>, 5\/618)<\/p>\n<p><strong>Berutang Tidaklah Masalah untuk Berqurban<\/strong><\/p>\n<p>Sufyan Ats Tsauri <em>rahimahullah <\/em>mengatakan, \u201dDulu Abu Hatim pernah mencari utangan dan beliau pun menggiring unta untuk disembelih. Lalu dikatakan padanya, \u201dApakah betul engkau mencari utangan dan telah menggiring unta untuk disembelih?\u201d Abu Hatim menjawab, \u201dAku telah mendengar firman Allah (yang artinya), \u201c<em>Kamu akan memperoleh kebaikan yang banyak padanya<\/em>.\u201d (QS. Al Hajj: 36)\u201d. (<em>Tafsir Al Qur\u2019an Al \u2018Azhim<\/em>, 5\/415)<\/p>\n<p><strong>Pilihlah Hewan Qurban Terbaik<\/strong><\/p>\n<p>Ciri-ciri hewan yang terbaik untuk qurban adalah: (1) gemuk, (2) warna putih atau warna putih lebih mayoritas, (3) berharga, (4) bertanduk, (5) jantan, (6) berkuku dan berperut hitam, (7) sekeliling mata hitam.<\/p>\n<p>Hewan qurban yang dipilih adalah yang sudah mencapai usia <em>musinnah<\/em>. <em>Musinnah<\/em> dari kambing adalah yang telah berusia satu tahun (masuk tahun kedua). Sedangkan <em>musinnah<\/em> dari sapi adalah yang telah berusia dua tahun (masuk tahun ketiga). Sedangkan unta adalah yang telah genap lima tahun (masuk tahun keenam). Inilah pendapat yang masyhur di kalangan fuqoha. Atau bisa pula memilih <em>jadza\u2019ah<\/em> yaitu domba yang telah berusia enam hingga satu tahun.<\/p>\n<p>Kemudian jauhi cacat hewan qurban yang wajib dihindari yang bisa membuat qurbannya tidak sah. Ada empat cacat yang membuat hewan qurban tidak sah: (1) buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, (2) sakit dan tampak jelas sakitnya, (3) pincang dan tampak jelas pincangnya, (4) sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang. Kalau dianggap tidak sah, berarti statusnya cuma daging biasa, bukan jadi qurban.<\/p>\n<p>Sedangkan cacat yang tidak mempengaruhi turunnya kualitas daging tidaklah masalah seperti ekor yang terputus, telinga yang terpotong dan tandung yang patah. Cacat ini yang dimakruhkan.<\/p>\n<p>Intinya, ketika berqurban berusaha memilih hewan qurban yang terbaik, menghindari cacat yang membuat tidak sah dan cacat yang dimakruhkan. Ibnu Taimiyah sampai berkata, \u201cPahala qurban (<em>udhiyah<\/em>) dilihat dari semakin berharganya hewan yang diqurbankan.\u201d (<em>Fatawa Al Kubro<\/em>, 5: 384). Semakin berharga hewan qurban yang dipilih, berarti semakin besar pahala.<\/p>\n<p>Berqurban itu begitu mudah, kita bisa berqurban dengan 1 kambing atau patungan 1\/7 sapi. Masing-masing qurban tersebut bisa diniatkan untuk satu keluarga. Imam Asy Syaukani <em>rahimahullah<\/em> pernah berkata, \u201cQurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih.\u201d (<em>Nailul Author<\/em>, 8\/125).<\/p>\n<p>Semoga bermanfaat. [Diringkas dari bahasan buku \u201cPanduan Qurban dan Aqiqah\u201d karya Muhammad Abduh Tuasikal, MSc terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta]<\/p>\n<p>Penulis : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc<\/p>\n<p>https:\/\/buletin.muslim.or.id\/featured\/kenapa-masih-enggan-berqurban<\/p>\n<\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KENAPA MASIH ENGGAN BERQURBAN? Buletin At-Tauhid Edisi 38 Tahun ke 10 Sebagian orang memiliki kelebihan harta yang sebenarnya sudah bisa berqurban dengan satu ekor kambing atau 1\/7 sapi secara patungan. Namun memang sifat manusia&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2436,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2435","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2435","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2435"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2435\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2436"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2435"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2435"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2435"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}