{"id":3436,"date":"2018-06-15T08:29:06","date_gmt":"2018-06-15T01:29:06","guid":{"rendered":"http:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/?p=3436"},"modified":"2018-08-07T08:34:15","modified_gmt":"2018-08-07T01:34:15","slug":"selamat-hari-raya-idul-fitri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/selamat-hari-raya-idul-fitri\/","title":{"rendered":"Selamat Hari Raya Idul Fitri"},"content":{"rendered":"<p>Lebaran adalah hari yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan dan minum di siang hari setelah satu bulan penuh berpuasa. Namun, jika kita tinjau perayaan lebaran (\u2019Iedul Fitri) yang telah kita laksanakan, sudah sesuaikah apa yang kita lakukan dengan keinginan Alloh dan Rosul-Nya? Atau malah kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah-Nya, dengan sekedar ikut-ikutan kebanyakan manusia? Untuk mengetahui perihal ini, mari kita simak bersama bahasan berikut.<\/p>\n<p><strong>Definisi \u2018Ied<\/strong><\/p>\n<p>Kata\u00a0<em>\u201cIed\u201d<\/em>\u00a0menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Kata ini berasal dari kata\u00a0<em>\u201cAl \u2018Aud\u201d<\/em>\u00a0yang berarti kembali dan berulang. Dinamakan\u00a0<em>\u201cAl \u2018Ied\u201d<\/em>\u00a0karena pada hari tersebut Alloh memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hambaNya, yaitu bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, penyempurnaan haji dengan thowaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya. Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini. (<em>Ahkamul \u2018Iedain<\/em>, Syaikh Ali bin Hasan).<\/p>\n<p>Perlu diperhatikan, saat ini telah menyebar di kalangan masyarakat, bahwa makna \u201c<a title=\"Bimbingan Idul Fitri\" href=\"https:\/\/muslim.or.id\/fiqh-dan-muamalah\/bimbingan-idul-fitri.html\" data-slimstat-clicked=\"false\" data-slimstat-type=\"2\" data-slimstat-tracking=\"false\" data-slimstat-callback=\"false\">Iedul Fitri<\/a>\u201d adalah\u00a0<ins datetime=\"2006-10-15T06:50:41+00:00\">kembali kepada\u00a0<em>fitroh<\/em>\u00a0(suci)<\/ins>\u00a0karena dosa-dosa kita telah terhapus.\u00a0<ins datetime=\"2006-10-15T06:50:41+00:00\">Hal ini kurang tepat, baik secara tinjauan bahasa maupun istilah syar\u2019i<\/ins>. Kesalahan dari sisi bahasa, apabila makna \u201cIedul Fitri\u201d demikian, seharusnya namanya\u00a0<em>\u201cIedul Fithroh\u201d<\/em>\u00a0(bukan\u00a0<em>\u2018Iedul Fitri<\/em>). Adapun dari sisi syar\u2019i, terdapat hadits yang menerangkan bahwa Iedul Fitri adalah hari dimana kaum muslimin kembali berbuka puasa.<\/p>\n<p>Dari Abu Huroiroh berkata:\u00a0<em>\u201cBahwasanya Nabi shollallohu\u2019alaihi wa sallam telah bersabda: \u2018Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (\u2019iedul) fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka\u2026\u2019\u201d (HR. Tirmidzi dan Abu dawud, shohih) (Majalah\u00a0<\/em><em>As Sunnah<\/em>\u00a005\/I, Ustadz Abdul Hakim). Oleh karena itu, makna yang tepat dari \u201cIedul Fitri\u201d adalah kembali berbuka (setelah sebelumnya berpuasa).<\/p>\n<p><strong>Pensyariatan \u2018Ied (hari raya) Adalah\u00a0<em>Tauqifiyyah<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Hari raya (tahunan) yang dimiliki oleh kaum muslimin, hanya ada dua, yaitu \u2018Iedul Fitri dan \u2018Iedul Adha. Adakah hari raya yang lain? Jawabnya: tidak ada. Karena pensyariatan hari raya merupakan hak khusus Alloh \u2018azza wa jalla. Suatu hari dikatakan hari raya apabila Alloh menetapkan bahwa hari tersebut adalah hari raya (\u2019Ied). Namun, jika tidak, kaum muslimin tidak diperkenankan merayakan atau memperingati hari tersebut. Alasannya adalah hadits Rosululloh\u00a0<em>shollallohu\u2019alaihi wa sallam<\/em>\u00a0yang diriwayatkan dari Anas\u00a0<em>rodhiyallohu \u2018anhu<\/em>\u00a0bahwa beliau berkata,\u00a0<em>\u201cRosululloh shollallohu\u2019alaihi wa sallam datang ke Madinah dan (pada saat itu) penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang dipergunakan untuk bermain (dengan permainan) di masa jahiliyyah. Lalu beliau bersabda: \u2018Aku telah datang kepada kalian, dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyyah. Sungguh Alloh telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yakni hari Nahr (\u2019Iedul Adha) dan hari fitri (\u2019Iedul Fitri).\u201d<\/em>\u00a0(HR. Ahmad dan Abu Dawud, shohih)<\/p>\n<p>Dua hari raya yang dimiliki penduduk Madinah saat itu adalah hari Nairuz dan Mihrojan, yang dirayakan dengan berbagai macam permainan. Kedua hari raya ini ditetapkan oleh orang-orang yang bijak pada zaman tersebut karena cuaca dan waktu pada saat itu sangat tepat\/bagus. (<em>Ahkamul \u2018Iedain<\/em>, Syaikh Ali bin Hasan). Tatkala Nabi datang, Alloh mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari raya pula yang Alloh pilih untuk hamba-hamba-Nya. Sejak saat itu, dua hari raya yang lama tidak diperingati lagi. Berdasarkan hal ini, pensyariatan hari raya adalah\u00a0<em>tauqifiyyah<\/em>\u00a0(sesuai dengan perintah Alloh). Seseorang tidak diperbolehkan menetapkan hari tertentu untuk perayaan\/peringatan kecuali memang ada dalil yang benar dari Alloh (Al Qur\u2019an) maupun Rosul-Nya (Al Hadits). Sehingga tidak benar, apa yang dilakukan sebagian besar kaum muslimin saat ini, dengan melakukan berbagai macam peringatan\/perayaan yang\u00a0<ins datetime=\"2006-10-15T06:50:41+00:00\">sama sekali tidak ada tuntunannya<\/ins>. Di antaranya: peringatan\/perayaan maulid Nabi, Isro Mi\u2019roj, Nuzulul Quran, hari Kartini, hari ibu, dan hari ulang tahun.<\/p>\n<p><strong>Tuntunan Nabi Saat Hari Raya<\/strong><\/p>\n<p>Perayaan \u2018Iedul Fitri maupun \u2018Iedul Adha merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Alloh. Dan ibadah tidak terlepas dari dua hal, yang semestinya harus ada, yaitu: (1) Ikhlas ditujukan hanya untuk Alloh semata dan (2) Sesuai dengan tuntunan Rosululloh\u00a0<em>shollallohu\u2019alaihi wa sallam<\/em>.<\/p>\n<p>Ada beberapa hal yang dituntunkan Rosululloh\u00a0<em>shollallohu\u2019alaihi wa sallam<\/em>\u00a0terkait dengan pelaksanaan hari raya, di antaranya:<\/p>\n<ol>\n<li><ins datetime=\"2006-10-15T06:50:41+00:00\">Mandi Sebelum \u2018Ied<\/ins>: Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. (<em>Ahkamul Iedain<\/em>, Dr. Abdulloh At Thoyyar \u2013 edisi Indonesia).\u00a0<em>Dari Nafi\u2019, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat \u2018Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat (HR. Malik, sanadnya shohih)<\/em>. Berkata pula Imam Sa\u2019id bin Al Musayyib,\u00a0<em>\u201cHal-hal yang disunnahkan saat Iedul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum sholat \u2018Ied, dan mandi.\u201d<\/em>\u00a0(Diriwayatkan oleh Al Firyabi dengan sanad shohih,\u00a0<em>Ahkamul Iedain<\/em>, Syaikh Ali bin Hasan).<\/li>\n<li><ins datetime=\"2006-10-15T06:50:41+00:00\">Makan di Hari Raya<\/ins>: Disunnahkan makan saat \u2018Iedul Fitri\u00a0<strong>sebelum<\/strong>\u00a0melaksanakan sholat dan tidak makan saat \u2018Iedul Adha sampai kembali dari sholat dan makan dari daging sembelihan kurbannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Buroidah, bahwa beliau berkata:\u00a0<em>\u201cRosululloh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.\u201d<\/em>\u00a0(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya hasan). Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum sholat saat \u2018Iedul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya sholat \u2018Iedul Fitri. Seakan-akan Rosululloh mencegah persangkaan ini. (<em>Ahkamul Iedain<\/em>, Syaikh Ali bin Hasan).<\/li>\n<li><ins datetime=\"2006-10-15T06:50:41+00:00\">Memperindah (berhias) Diri pada Hari Raya<\/ins>: Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rosululloh\u00a0<em>shollallohu\u2019alaihi wa sallam<\/em>agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhori dan Muslim). Rosululloh\u00a0<em>shollallohu\u2019alaihi wa sallam<\/em>\u00a0tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. (<em>Ahkamul Iedain<\/em>, Syaikh Ali bin Hasan). Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Alloh, di antaranya\u00a0<strong>larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita<\/strong>.<\/li>\n<li><ins datetime=\"2006-10-15T06:50:41+00:00\">Berbeda Jalan antara Pergi ke Tanah Lapang dan Pulang darinya<\/ins>: Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata,\u00a0<em>\u201cRosululloh membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.\u201d<\/em>\u00a0(HR. Al Bukhori). Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. (<em>Ahkamul Iedain<\/em>, Syaikh Ali bin Hasan). Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan sholat, jika telah selesai sholat, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih).<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Diperbolehkan<\/strong>\u00a0saling mengucapkan selamat tatkala \u2018Iedul Fitri dengan\u00a0<em>\u201ctaqobbalalloohu minnaa wa minkum\u201d<\/em>\u00a0(Semoga Alloh menerima amal kita dan amal kalian) atau dengan\u00a0<em>\u201ca\u2019aadahulloohu \u2018alainaa wa \u2018alaika bil khoiroot war rohmah\u201d<\/em>\u00a0(Semoga Alloh membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat) sebagaimana diriwayatkan dari beberapa sahabat. (<em>Ahkamul Iedain<\/em>, Dr. Abdulloh At Thoyyar \u2013 edisi Indonesia).<\/p>\n<p><strong>Jika Terkumpul Hari Jum\u2019at dan Hari Raya Dalam Satu Hari<\/strong><\/p>\n<p>Jika hari raya dan hari Jumat berbarengan dalam satu hari, gugurlah kewajiban sholat Jum\u2019at bagi orang yang telah melaksanakan sholat \u2018Ied, namun bagi Imam hendaknya tetap mengerjakan sholat Jum\u2019at agar dapat dihadiri oleh orang yang ingin menghadirinya dan orang yang belum sholat \u2018Ied. Imam Ibnul Qoyyim\u00a0<em>rohimahulloh<\/em>\u00a0berkata,\u00a0<em>\u201cDiperbolehkan bagi mereka (kaum muslimin), jika \u2018ied jatuh pada hari Jum\u2019at untuk mencukupkan diri dengan sholat \u2018ied saja dan tidak menghadiri sholat Jumat.\u201d<\/em>\u00a0(<em>Ahkamul Iedain<\/em>, Dr. Abdulloh At Thoyyar \u2013 edisi Indonesia).<\/p>\n<p><strong>Hal-Hal yang Terkait Sholat Ied Secara Ringkas<\/strong><\/p>\n<p>Karena terbatasnya jumlah halaman, berikut kami ringkaskan hal-hal yang terkait dengan sholat \u2018Ied, di antaranya:<\/p>\n<ol>\n<li>Dasar disyari\u2019atkannya: QS. Al Kautsar ayat 2, dan hadits dari Ibnu Abbas, beliau berkata,\u00a0<em>\u201cAku ikut melaksanakan sholat \u2018Ied bersama Rosululloh, Abu Bakar dan Umar, mereka mengerjakan sholat \u2018Ied sebelum khutbah.\u201d<\/em>\u00a0(HR. Buhori dan Muslim)<\/li>\n<li>Hukum sholat \u2018Ied:\u00a0<em>Fardhu \u2018Ain<\/em>, menurut pendapat terkuat.<\/li>\n<li>Waktu sholat \u2018Ied: Antara terbit matahari setinggi tombak sampai tergelincirnya matahari (waktu Dhuha), menurut kebanyakan ulama.<\/li>\n<li>Tempat dilaksanakannya: Disunnahkan di tanah lapang di luar perkampungan (berdasarkan perbuatan Nabi), jika terdapat udzur dibolehkan di masjid (berdasarkan perbuatan Ali bin Abi Tholib).<\/li>\n<li>Tata cara sholat \u2018Ied: Dua roka\u2019at berjama\u2019ah, dengan tujuh takbir di roka\u2019at pertama (selain\u00a0<em>takbirotul ihrom<\/em>) dan lima takbir di roka\u2019at kedua (selain\u00a0<em>takbir intiqol<\/em>\u00a0-takbir berpindah dari rukun yang satu ke rukun yang lain).<\/li>\n<li>Adzan dan iqomah pada sholat \u2018Ied: Tidak ada adzan dan iqomah, atau seruan apapun sebelum dilaksanakan sholat karena tidak adanya dalil untuk hal tersebut.<\/li>\n<li>Khutbah pada sholat \u2018Ied: Satu kali khutbah tanpa diselingi dengan duduk, menurut pendapat yang terkuat.<\/li>\n<li>Qodho\u2019 sholat \u2018Ied jika terluput: Tidak perlu meng-<em>qodho\u2019<\/em>, menurut pendapat yang terkuat.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Kemungkaran yang Biasa Dilakukan Tatkala \u2018Iedul Fitri<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang kafir dalam pakaian dan mendengarkan musik\/nyanyian (kecuali rebana yang dimainkan oleh wanita yang masih kecil). Rosululloh\u00a0<em>shollallohu\u2019alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda,\u00a0<em>\u201cBarangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.\u201d<\/em>\u00a0(HR. Ahmad, sanadnya hasan) dan sabda Nabi yang lain,\u00a0<em>\u201cAkan datang sekelompok orang dari umatku yang menghalalkan (padahal hukumnya haram) perzinaan, pakaian sutra bagi laki-laki, khomr (sesuatu yang memabukkan), dan alat musik\u2026\u201d<\/em>\u00a0(HR. Al Bukhori secara\u00a0<em>mu\u2019allaq<\/em>\u00a0dan Imam Nawawi berkata bahwa hadits ini shohih dan bersambung sesuai syarat shohih). Dan Ibnu Mas\u2019ud\u00a0<em>rodhiyallohu \u2018anhu<\/em>\u00a0mengatakan bahwa yang dimaksud\u00a0<em>\u2018Lahwal Hadits\u2019<\/em>(perkataan yang tidak bermanfaat) dalam surat Luqman ayat 6 adalah\u00a0<em>Al Ghinaa<\/em>\u2018 (nyanyian).<\/li>\n<li><em>Tabarruj<\/em>-nya (memamerkan kecantikan) wanita, dan keluarnya mereka dari rumahnya tanpa keperluan yang dibenarkan syariat agama. Hal tersebut diharamkan di dalam syari\u2019at ini, di mana Alloh berfirman,\u00a0<em>\u201cDan hendaklah kamu (wanita muslimah) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu, dan dirikanlah sholat serta tunaikanlah\u2026\u201d<\/em>\u00a0(QS. Al Ahzab: 33). Dalam suatu hadits disebutkan bahwa ada dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah dilihat oleh Nabi:\u00a0<em>\u201c\u2026.salah satu di antaranya adalah wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang (tidak menutup seluruh tubuhnya, atau berpakaian namun tipis, atau berpakaian ketat) yang melenggak-lenggokkan kepala. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga.\u201d<\/em>\u00a0(HR. Muslim)<\/li>\n<li>Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom. Fenomena ini merupakan musibah yang sudah sangat merata. Tidak ada yang selamat dari musibah ini kecuali yang dirohmati Alloh. Padahal perbuatan ini adalah haram berdasarkan sabda Rosululloh\u00a0<em>shollallohu\u2019alaihi wa sallam<\/em>,\u00a0<em>\u201cSungguh, seandainya kepala kalian ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal dia sentuh.\u201d<\/em>\u00a0(lihat\u00a0<em>Silsilah Al Ahadits As Shohihah<\/em>\u00a0226) (<em>Ahkamul Iedain<\/em>, Syaikh Ali bin Hasan).<\/li>\n<li>Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya \u2018Ied. Tidak terdapat satu dalil pun yang menunjukkan perintah Alloh ataupun tuntunan Nabi untuk ziarah ke kubur pada saat \u2018Iedul Fitri. Ziarah kubur memang termasuk ibadah yang disyariatkan, namun, pengkhususan waktu untuk ziarah saat \u2018Iedul Fitri membutuhkan dalil. Jika tidak terdapat dalil, perbuatan tersebut bukan tuntunan Nabi dan tidak boleh dilaksanakan. Rosululloh\u00a0<em>shollallohu\u2019alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda,\u00a0<em>\u201cBarangsiapa yang beramal suatu amalan (untuk tujuan ibadah) di mana tidak termasuk dalam urusan kami, maka amalnya tersebut tertolak (tidak akan diterima).\u201d<\/em>\u00a0(HR. Muslim)<\/li>\n<li>Begadang saat malam \u2018Iedul Fitri. Banyak di antara kaum muslimin yang menghidupkan malam \u2018Ied dengan takbir via mikrofon. Hal ini sangat mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat. Hukum mengganggu orang lain adalah haram. Rosululloh\u00a0<em>shollallohu\u2019alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda,\u00a0<em>\u201cMuslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.\u201d<\/em>\u00a0(HR. Muslim). Sehingga jika memang hendak bertakbir, hendaknya tidak dengan suara yang keras. Ada lagi di antara kaum muslimin yang menjadikan malam \u2018Ied untuk begadang dengan bermain catur, kartu atau sekedar ngobrol tanpa tujuan. Akibatnya, tatkala pagi datang, kebanyakan dari mereka sulit menjalankan sholat subuh secara berjamaah. Bahkan ada yang sampai\u00a0<em>ogah-ogahan<\/em>menjalankan sholat \u2018Ied.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat. Semoga Alloh memberikan balasan yang baik bagi yang menulis, membaca, dan yang menyebarkannya.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Penulis: Adid Adep Dwiatmoko<br \/>\nMuroja\u2019ah: Ustadz Aris Munandar<br \/>\nArtikel\u00a0<a title=\"Bimbingan Idul Fitri\" href=\"https:\/\/muslim.or.id\/fiqh-dan-muamalah\/bimbingan-idul-fitri.html\" data-slimstat-clicked=\"false\" data-slimstat-type=\"2\" data-slimstat-tracking=\"false\" data-slimstat-callback=\"false\">www.muslim.or.id<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lebaran adalah hari yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan dan minum di siang hari setelah satu bulan penuh&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3437,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3436","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3436","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3436"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3436\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3437"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3436"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3436"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/keperawatan.poltekkes-smg.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3436"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}